Pikiran orang-orang menguap, terlebih Bawi. Baginya, Kampung Dowi kerasukan matahari. Bagaimana tidak, ia lihat alang-alang berubah warna jadi tanah. Pokok-pokok tak lagi melahirkan bakal benih dari rimbun tangkainya. Angin mengering. Pun gunung-gunung yang tampak mulai bosan menangkap awan dan embun-embun. Mereka sadari, ini hari-hari ganjil. Tetapi sayangnya, darma hidup yang mereka imani, sabda-sabda Dewa yang suci, tak pernah mengajarkan langkah-langkah untuk merenangi ringkihnya keanehan hari-hari witir. Dari dongeng neneknya, Bawi teramat ingat, dulu, para leluhurnya tak lebih dari sekawanan orang yang tak punya tanah mukiman. Berjumlah belasan orang. Hidup tanpa tuntunan. Mendaki cangkang gunung, turun, menyisir lintasan sungai, merangseki rimba, rawa, dan menjelajahi usus goa. Pandangan mereka selalu awas, mereka tak pernah mengerti kapan kucing besar bergigi pedang ingin menerkam, mamut setinggi seperempat baobab datang lalu menggilas tubuh mereka yang tertidur sampai penyet, atau kapan harus berhadapan dengan boa saat membersihkan daki di sungai. Turun-temurun, orang-orang hanya bisa menekuk-nekuk tubuhnya, menggeram, atau hanya memainkan kerut wajah yang mereka atur sedemikian anehnya agar bisa menularkan apa yang hinggap di isi kepala seorang yang satu, ke isi kepala seorang yang lain. Gerak-gerak dan cakapan sederhana itu, sayangnya, seringkali masih membuat mereka gagal menjerat dodo untuk dapat dijadikan pengganjal perut yang keroncongan. Gagal merencanakan penjagalan rusa hutan untuk meramu hidangan akbar. Gagal saling memberi peringatan untuk gesit berlari, bersembunyi, atau memanjat pohon tinggi-tinggi ketika hendak bertemu hewan-hewan, sekelompok kawanan tak dikenal, atau gerak-gerik alam yang memiliki ciri sebagai pembawa ajal. Sebanyak apapun mereka beranak-pinak, jumlah sekawanan itu hanya akan terkumpul belasan orang. Gerak-gerik dan cakapan yang sering cacat, tak lebih jarang mendatangkan berita kematian ketimbang berita sejoli para leluhur Bawi mampu menanam benih manusia di dalam kehangatan usus goa atau di bawah naungan pokok-pokok rindang. Semua berjalan seperti itu beratus-ratus tahun lamanya. Sampai pada satu waktu, seratus enam puluh tujuh tahun yang lalu, para leluhur Bawi bertemu Dewa di Lembah Owi. Lelaki itu mengajarkan kepada leluhur-leluhur Bawi untuk merangkai ragam cakapan dari lima bunyi vokal dan puluhan konsonan. Juga yang tak kalah penting, dari pengetahuan Dewa, para leluhur Bawi berhasil menemukan api dari batu dan reranting kering. Setelah kurang lebih tujuh tahun mereka memutuskan untuk tinggal, berbaur bersama Dewa di Owi, para leluhur Bawi tak lagi sering menemukan kegagalan dalam menjerat dodo, menjagal rusa, atau menghindari marabahaya yang membuat anggota mereka berkurang. Bahkan lebih dari itu, para leluhur Bawi dapat dengan cepat mengarang kebun-kebun, menata saluran air, mengatur ternak-ternak: kuda, sapi, kambing dan babi, juga menyusun tempat mukiman dari batang pokok, bambu, dan jerami yang membuat mereka tak lagi susah berlindung dari tusuk tetes hujan dan gelombang panas yang diluruhkan sebutir bintang kala pucuk siang datang. Setelah permukiman para leluhur Bawi mulai terbentuk dengan cukup, tak lama, dinamailah permukiman kecil di lembah berkeliling gunung itu dengan asma Kampung Dowi. Kemakmuran Kampung Dowi membuat Dewa diangkat menjadi tetua. Ia pun dipercaya masyarakat untuk membuat darma yang musti dijalankan orang-orang. Tetapi sebelum ia memenuhi tanggung jawab itu, Dewa—yang mengetahui bahwa dirinya adalah seorang yang paling memahami segala kondisi Owi—terlebih dahulu menatah dan mengikrarkan satu sabda utama, sabda yang berpangkat di atas segala sabda-sabda setelahnya di seluruh hadapan penduduk Dowi: Getih Dowi ana ing tatanan Owi. Lan tatanan Owi ana ing sabdaku kang suci. Sabda itu diukir di pucuk menhir yang diletakkan tepat di tengah mandala Kampung Dowi. Baru setelahnya, ia merangkai pranata mangsa untuk dua belas bulan di Owi. Segala bentuk ibadah pada alam lembah itu ia atur. Mulai dari membersikan saluran dan penampung air: sungai, embung, juga irigasi. Memberikan pengasapan dengan bakaran daun sirih, daun salam, kayu jati, atau kayu manis di beberapa titik kebun dan lahan tani. Menyemai benih padi gogo, merawat beberapa tanaman kebun: apel, pir, matoa, dan gandaria. Memanen segala hasil bumi sekaligus menyimpannya dalam lumbung. Menyiapkan pakan ternak, menjaga kesehatannya, juga menentukan waktu penyembelihan yang pas. Terakhir, yang tak kalah penting, menentukan agenda pelaksanaan ritus agung kepada roh Lembah Owi ketika seorang berpulang, kemarau dan musim hujan hendak turun. Semua itu pun ditulis pada menhir yang sama, yang berdiri tegakkan di pusar permukiman Owi. Seratus empat puluh lima tahun berlangsung, permukiman itu sering disebut serupa surga. Anak-anak ceria, tak ada satu pun kasus gizi busuk yang menimpa mereka. Ternak-ternak tambun. Hasil bumi tak pernah absen mengisi belasan lumbung. Para wanita menikmati hari-harinya dengan merawat isi rumah, juga berlatih seni meracik pelbagai bumbu yang memperkaya rasa dan aroma hidangan-hidangan terbaik yang siap disajikan kala makan malam. Sedangkan pria dewasa, selain beternak, bertani, dan berkebun, mereka juga gemar menunggangi kuda yang mereka piara, berburu, dan berkhayal—merangkai ulang bangunan-bangunan di Dowi agar tampak gahar. Beberapa yang lain menikmati hidupnya sebagai tabib, pemikir, penikmat catur, dan pemancing. Sedangkan Bawi, tak memiliki kesempatan di semua itu. Ia seorang penyambung lisan. Jika Tetua harus mengakui siapa tangan kananya di Dowi, maka jawaban itu pasti mengarah pada lelaki bernama Bawi. Tetapi sepuluh tahun kemudian, tulang dan tubuh Tetua, berangsur-angsur kian keropos dan menyusut. Kulit tubuhnya berkisut-kisut. Kulit kepalanya tampak seperti bohlam yang dilapisi debu gurun. Ia tak lagi punya kemampuan ‘tuk secara langsung membersamai orang-orang Dowi merawat Owi. Tak lagi kuasa mengawasi petani, pekebun, peternak, kepala pelaksana ritus, dan segala lainnya. Ia hanya bisa duduk tenang, di singgasana rumah adat yang khusus disediakan penduduk untuknya di masa renta itu. Dengan demikian, ia butuh seorang yang taat, perkasa, nan bijak ‘tuk senantiasa membawakan laporan dari luar rumah adat, semata-mata agar ia dapat memantau bagaimana Dowi berjalan hari demi hari dan memberikan sabda-sabda kecil kebaikan hidup Dowi. Sabda kecil, menciptakan darma harian bagi penduduk Dowi. Memberikan mereka arahan berdasarkan tanda-tanda alam yang halus diberikan roh Lembah Owi, yang berhasil ditangkap dan dihayati Tetua dengan kelima indra dan hati yang ia miliki. Sabda-sabda itu keluar, tak lain untuk memberi petunjuk sekaligus kewajiban sederhana yang musti dijalankan penduduk di tengah rasa kebimbangan bersama. Seperti misalnya, apakah apel harus dipanen lebih dahulu ketimbang pir, matoa, dan gandaria. Apakah pemerahan susu kuda musti diperbanyak melampaui pemerahan susu sapi, susu kambing, dan susu babi, dan masih banyak kebimbangan lagi. Dalam beberapa waktu, rusaknya tubuh Tetua belum bisa membuatnya lumpuh total untuk