Puisi

pexels quang nguyen vinh 222549 11331384
Pos Terbaru, Puisi

Sampel Puisi 9

Bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan. Gedung-gedung berguguran menjadi makam. Nyanyi-nyanyian burung, tawa dan tangis anak kecil sudah luruh jadi puing batu dan himpun kerikil. Tanah kami bukan lagi tanah yang dibangun dari taman, bunga, dan kupu-kupu. Tanah kami, hanya menyisakan sesak tenda dan busuk mayat yang digotong dari tandu ke tandu. Kaki kami remuk, kepala anak-anak kami meledak dan hilang jadi abu. Maafkan kami, saudaraku, kilau dinding Aqsha telah jatuh dan Yerussalem pun luluh, runtuh, dikangkangi segerombolan binatang berkepala bintang itu. Maafkan kami, dan di atas tanah kelabu yang bermandikan peluru; kami menunggu. Kami menunggu. … bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan

21469424700 951b4e6340 b
Pos Terbaru, Puisi

Sampel Puisi 8

Bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan. Gedung-gedung berguguran menjadi makam. Nyanyi-nyanyian burung, tawa dan tangis anak kecil sudah luruh jadi puing batu dan himpun kerikil. Tanah kami bukan lagi tanah yang dibangun dari taman, bunga, dan kupu-kupu. Tanah kami, hanya menyisakan sesak tenda dan busuk mayat yang digotong dari tandu ke tandu. Kaki kami remuk, kepala anak-anak kami meledak dan hilang jadi abu. Maafkan kami, saudaraku, kilau dinding Aqsha telah jatuh dan Yerussalem pun luluh, runtuh, dikangkangi segerombolan binatang berkepala bintang itu. Maafkan kami, dan di atas tanah kelabu yang bermandikan peluru; kami menunggu. Kami menunggu. … bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan

pexels pixabay 35624
Pos Terbaru, Puisi, Uncategorized

Sampel Puisi 7

Bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan. Gedung-gedung berguguran menjadi makam. Nyanyi-nyanyian burung, tawa dan tangis anak kecil sudah luruh jadi puing batu dan himpun kerikil. Tanah kami bukan lagi tanah yang dibangun dari taman, bunga, dan kupu-kupu. Tanah kami, hanya menyisakan sesak tenda dan busuk mayat yang digotong dari tandu ke tandu. Kaki kami remuk, kepala anak-anak kami meledak dan hilang jadi abu. Maafkan kami, saudaraku, kilau dinding Aqsha telah jatuh dan Yerussalem pun luluh, runtuh, dikangkangi segerombolan binatang berkepala bintang itu. Maafkan kami, dan di atas tanah kelabu yang bermandikan peluru; kami menunggu. Kami menunggu. … bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan

pexels mikebirdy 190537
Pos Terbaru, Puisi

Sampel Puisi 4

Bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan. Gedung-gedung berguguran menjadi makam. Nyanyi-nyanyian burung, tawa dan tangis anak kecil sudah luruh jadi puing batu dan himpun kerikil. Tanah kami bukan lagi tanah yang dibangun dari taman, bunga, dan kupu-kupu. Tanah kami, hanya menyisakan sesak tenda dan busuk mayat yang digotong dari tandu ke tandu. Kaki kami remuk, kepala anak-anak kami meledak dan hilang jadi abu. Maafkan kami, saudaraku, kilau dinding Aqsha telah jatuh dan Yerussalem pun luluh, runtuh, dikangkangi segerombolan binatang berkepala bintang itu. Maafkan kami, dan di atas tanah kelabu yang bermandikan peluru; kami menunggu. Kami menunggu. … bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan

Banner 1024x682
Pos Terbaru, Puisi

Sampel Puisi 3

Bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan. Gedung-gedung berguguran menjadi makam. Nyanyi-nyanyian burung, tawa dan tangis anak kecil sudah luruh jadi puing batu dan himpun kerikil. Tanah kami bukan lagi tanah yang dibangun dari taman, bunga, dan kupu-kupu. Tanah kami, hanya menyisakan sesak tenda dan busuk mayat yang digotong dari tandu ke tandu. Kaki kami remuk, kepala anak-anak kami meledak dan hilang jadi abu. Maafkan kami, saudaraku, kilau dinding Aqsha telah jatuh dan Yerussalem pun luluh, runtuh, dikangkangi segerombolan binatang berkepala bintang itu. Maafkan kami, dan di atas tanah kelabu yang bermandikan peluru; kami menunggu. Kami menunggu. … bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan

pexels alex andrews 271121 821668
Pos Terbaru, Puisi

Sampel Puisi 2

Bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan. Gedung-gedung berguguran menjadi makam. Nyanyi-nyanyian burung, tawa dan tangis anak kecil sudah luruh jadi puing batu dan himpun kerikil. Tanah kami bukan lagi tanah yang dibangun dari taman, bunga, dan kupu-kupu. Tanah kami, hanya menyisakan sesak tenda dan busuk mayat yang digotong dari tandu ke tandu. Kaki kami remuk, kepala anak-anak kami meledak dan hilang jadi abu. Maafkan kami, saudaraku, kilau dinding Aqsha telah jatuh dan Yerussalem pun luluh, runtuh, dikangkangi segerombolan binatang berkepala bintang itu. Maafkan kami, dan di atas tanah kelabu yang bermandikan peluru; kami menunggu. Kami menunggu. … bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan

pexels chiara salvi 715196718 19878379
Pos Terbaru, Puisi

Sampel Puisi 1

Bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan. Gedung-gedung berguguran menjadi makam. Nyanyi-nyanyian burung, tawa dan tangis anak kecil sudah luruh jadi puing batu dan himpun kerikil. Tanah kami bukan lagi tanah yang dibangun dari taman, bunga, dan kupu-kupu. Tanah kami, hanya menyisakan sesak tenda dan busuk mayat yang digotong dari tandu ke tandu. Kaki kami remuk, kepala anak-anak kami meledak dan hilang jadi abu. Maafkan kami, saudaraku, kilau dinding Aqsha telah jatuh dan Yerussalem pun luluh, runtuh, dikangkangi segerombolan binatang berkepala bintang itu. Maafkan kami, dan di atas tanah kelabu yang bermandikan peluru; kami menunggu. Kami menunggu. … bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan

Scroll to Top