Sampel Puisi 9
Bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan. Gedung-gedung berguguran menjadi makam. Nyanyi-nyanyian burung, tawa dan tangis anak kecil sudah luruh jadi puing batu dan himpun kerikil. Tanah kami bukan lagi tanah yang dibangun dari taman, bunga, dan kupu-kupu. Tanah kami, hanya menyisakan sesak tenda dan busuk mayat yang digotong dari tandu ke tandu. Kaki kami remuk, kepala anak-anak kami meledak dan hilang jadi abu. Maafkan kami, saudaraku, kilau dinding Aqsha telah jatuh dan Yerussalem pun luluh, runtuh, dikangkangi segerombolan binatang berkepala bintang itu. Maafkan kami, dan di atas tanah kelabu yang bermandikan peluru; kami menunggu. Kami menunggu. … bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan






