Uncategorized

pexels pixabay 35624
Pos Terbaru, Puisi, Uncategorized

Sampel Puisi 7

Bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan. Gedung-gedung berguguran menjadi makam. Nyanyi-nyanyian burung, tawa dan tangis anak kecil sudah luruh jadi puing batu dan himpun kerikil. Tanah kami bukan lagi tanah yang dibangun dari taman, bunga, dan kupu-kupu. Tanah kami, hanya menyisakan sesak tenda dan busuk mayat yang digotong dari tandu ke tandu. Kaki kami remuk, kepala anak-anak kami meledak dan hilang jadi abu. Maafkan kami, saudaraku, kilau dinding Aqsha telah jatuh dan Yerussalem pun luluh, runtuh, dikangkangi segerombolan binatang berkepala bintang itu. Maafkan kami, dan di atas tanah kelabu yang bermandikan peluru; kami menunggu. Kami menunggu. … bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan

pexels anna s 92808785 9157497
Uncategorized

Sampel Puisi 6

Bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan. Gedung-gedung berguguran menjadi makam. Nyanyi-nyanyian burung, tawa dan tangis anak kecil sudah luruh jadi puing batu dan himpun kerikil. Tanah kami bukan lagi tanah yang dibangun dari taman, bunga, dan kupu-kupu. Tanah kami, hanya menyisakan sesak tenda dan busuk mayat yang digotong dari tandu ke tandu. Kaki kami remuk, kepala anak-anak kami meledak dan hilang jadi abu. Maafkan kami, saudaraku, kilau dinding Aqsha telah jatuh dan Yerussalem pun luluh, runtuh, dikangkangi segerombolan binatang berkepala bintang itu. Maafkan kami, dan di atas tanah kelabu yang bermandikan peluru; kami menunggu. Kami menunggu. … bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan

pexels evgeni adutskevich 363025374 14807978
Uncategorized

Sampel Puisi 5

Bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan. Gedung-gedung berguguran menjadi makam. Nyanyi-nyanyian burung, tawa dan tangis anak kecil sudah luruh jadi puing batu dan himpun kerikil. Tanah kami bukan lagi tanah yang dibangun dari taman, bunga, dan kupu-kupu. Tanah kami, hanya menyisakan sesak tenda dan busuk mayat yang digotong dari tandu ke tandu. Kaki kami remuk, kepala anak-anak kami meledak dan hilang jadi abu. Maafkan kami, saudaraku, kilau dinding Aqsha telah jatuh dan Yerussalem pun luluh, runtuh, dikangkangi segerombolan binatang berkepala bintang itu. Maafkan kami, dan di atas tanah kelabu yang bermandikan peluru; kami menunggu. Kami menunggu. … bukankah kalian telah saksikan, langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan

Uncategorized

Sampel Esai 6

Mona Lisa, sebuah mahakarya yang tak asing lagi bagi seluruh dunia. Lukisan abad ke 16 (1503) yang penuh dengan teka-teki dan misteri anggitan Leonardo da Vinci itu, seperti tak henti untuk memikat para penelti dalam mengungkap makna yang disiratkan olehnya. Segala apresiasi dan atensi pun tak henti berdatangan untuk sekedar melihat, menilai atau bahkan menelitinya.           Hingga saat ini, belum terdapat informasi yang pasti terkait asal usul dari latar pembuatan dari lukisan tersebut. Oleh karenanya, tidaklah mengherankan jika terdapat beberapa versi mengenai sejarah lahirnya mahakarya itu. Namun, kebanyakan orang meyakini, bahwa teori asal-usul Mona Lisa versi Giorgio Vasari, seorang penulis buku biografi sosok Leonardo da Vinci adalah pendapat yang dianggap lebih akurat dibanding pendapat dalam versi yang lain. Menurutnya, Leonardo da Vinci mulai melukis Mona Lisa pada tahun 1503, lebih tepatnya ketika dirinya kembali dari kota Florence, Italia.           Dalam sebuah riwayat, Mona Lisa dikabarkan sempat pernah dicuri dari museum Louvre di Paris, Perancis pada 1911. Karena berita tentang sebuah pencurian itu lah, Mona Lisa semakin dikenal di kalangan masyarakat luas.            Pada kanvas kuno itu, Leonardo seakan melukiskan berton-ton teka-teki yang tak akan habis dikaji oleh para ilmuan. Mulai dari misteri pada senyum Mona Lisa yang menimbulkan berbagai persepsi oleh para ahli tentang maksud ekspresi yang digambarkan oleh sosok Mona Lisa pada gambar tersebut, golden ratio, kode-kode dan simbol rahasia yang tersembunyi berupa alfabet dan angka yang diselipkan oleh sosok pelukis terkenal itu, sampai tenttang siapa sosok yang dimaksud Leonardo pada lukisan tersebut. Poin-poin ini lah yang membuatnya begitu berharga sebagai sebuah karya seni.           Sebab kekayaan dan kemewahan sebuah nilai yang terkandung di dalamnya, lukisan karya pelukis kelahiran Florence, Italia itu pun mendapat banyak sekali apresiasi dan atensi dari publik. Baik dari kalangan akademisi, seniman maupun dari kalangan masyarakat awam. Karya tersebut memanglah sebuah buah karya yang pantas mendapat segala perhatian tersebut.           Tanpa sebuah seni yang spektakuler, dunia seakan kehilangan makna-makna yang mendalam pada sebuah misteri kehidupan. Oleh karenanya, sangat penting pula bagi seluruh masyarakat untuk memberi sebuah apresiasi kepada sebuah karya seni dalam bentuk apa pun itu. Mulai dari mengembangkan seni, menjaganya, meneliti kandungan nilainya, atau bahkan hanya sekedar untuk menyukainya. Ini semua adalah wujud dari rasa peduli untuk mempertahankan sebuah esensi dari sebuah rasa dan makna pada sebuah kehidupan.

Scroll to Top