Sampel Cerpen 6

Pikiran orang-orang menguap, terlebih Bawi. Baginya, Kampung Dowi kerasukan matahari. Bagaimana tidak, ia lihat alang-alang berubah warna jadi tanah. Pokok-pokok tak lagi melahirkan bakal benih dari rimbun tangkainya. Angin mengering. Pun gunung-gunung yang tampak mulai bosan menangkap awan dan embun-embun. Mereka sadari, ini hari-hari ganjil. Tetapi sayangnya, darma hidup yang mereka imani, sabda-sabda Dewa yang suci, tak pernah mengajarkan langkah-langkah untuk merenangi ringkihnya keanehan hari-hari witir.

            Dari dongeng neneknya, Bawi teramat ingat, dulu, para leluhurnya tak lebih dari sekawanan orang yang tak punya tanah mukiman. Berjumlah belasan orang. Hidup tanpa tuntunan. Mendaki cangkang gunung, turun, menyisir lintasan sungai, merangseki rimba, rawa, dan menjelajahi usus goa. Pandangan mereka selalu awas, mereka tak pernah mengerti kapan kucing besar bergigi pedang ingin menerkam, mamut setinggi seperempat baobab datang lalu menggilas tubuh mereka yang tertidur sampai penyet, atau kapan harus berhadapan dengan boa saat membersihkan daki di sungai.

Turun-temurun, orang-orang hanya bisa menekuk-nekuk tubuhnya, menggeram, atau hanya memainkan kerut wajah yang mereka atur sedemikian anehnya agar bisa menularkan apa yang hinggap di isi kepala seorang yang satu, ke isi kepala seorang yang lain. Gerak-gerak dan cakapan sederhana itu, sayangnya, seringkali masih membuat mereka gagal menjerat dodo untuk dapat dijadikan pengganjal perut yang keroncongan. Gagal merencanakan penjagalan rusa hutan untuk meramu hidangan akbar. Gagal saling memberi peringatan untuk gesit berlari, bersembunyi, atau memanjat pohon tinggi-tinggi ketika hendak bertemu hewan-hewan, sekelompok kawanan tak dikenal, atau gerak-gerik alam yang memiliki ciri sebagai pembawa ajal.

Sebanyak apapun mereka beranak-pinak, jumlah sekawanan itu hanya akan terkumpul belasan orang. Gerak-gerik dan cakapan yang sering cacat, tak lebih jarang mendatangkan berita kematian ketimbang berita sejoli para leluhur Bawi mampu menanam benih manusia di dalam kehangatan usus goa atau di bawah naungan pokok-pokok rindang.

Semua berjalan seperti itu beratus-ratus tahun lamanya. Sampai pada satu waktu, seratus enam puluh tujuh tahun yang lalu, para leluhur Bawi bertemu Dewa di Lembah Owi. Lelaki itu mengajarkan kepada leluhur-leluhur Bawi untuk merangkai ragam cakapan dari lima bunyi vokal dan puluhan konsonan. Juga yang tak kalah penting, dari pengetahuan Dewa, para leluhur Bawi berhasil menemukan api dari batu dan reranting kering.

Setelah kurang lebih tujuh tahun mereka memutuskan untuk tinggal, berbaur bersama Dewa di Owi, para leluhur Bawi tak lagi sering menemukan kegagalan dalam menjerat dodo, menjagal rusa, atau menghindari marabahaya yang membuat anggota mereka berkurang. Bahkan lebih dari itu, para leluhur Bawi dapat dengan cepat mengarang kebun-kebun, menata saluran air, mengatur ternak-ternak: kuda, sapi, kambing dan babi, juga menyusun tempat mukiman dari batang pokok, bambu, dan jerami yang membuat mereka tak lagi susah berlindung dari tusuk tetes hujan dan gelombang panas yang diluruhkan sebutir bintang kala pucuk siang datang. Setelah permukiman para leluhur Bawi mulai terbentuk dengan cukup, tak lama, dinamailah permukiman kecil di lembah berkeliling gunung itu dengan asma Kampung Dowi.  

Kemakmuran Kampung Dowi membuat Dewa diangkat menjadi tetua. Ia pun dipercaya masyarakat untuk membuat darma yang musti dijalankan orang-orang. Tetapi sebelum ia memenuhi tanggung jawab itu, Dewa—yang mengetahui bahwa dirinya adalah seorang yang paling memahami segala kondisi Owi—terlebih dahulu menatah dan mengikrarkan satu sabda utama, sabda yang berpangkat di atas segala sabda-sabda setelahnya di seluruh hadapan penduduk Dowi: Getih Dowi ana ing tatanan Owi. Lan tatanan Owi ana ing sabdaku kang suci. Sabda itu diukir di pucuk menhir yang diletakkan tepat di tengah mandala Kampung Dowi.

Baru setelahnya, ia merangkai pranata mangsa untuk dua belas bulan di Owi. Segala bentuk ibadah pada alam lembah itu ia atur. Mulai dari membersikan saluran dan penampung air: sungai, embung, juga irigasi. Memberikan pengasapan dengan bakaran daun sirih, daun salam, kayu jati, atau kayu manis di beberapa titik kebun dan lahan tani. Menyemai benih padi gogo, merawat beberapa tanaman kebun: apel, pir, matoa, dan gandaria. Memanen segala hasil bumi sekaligus menyimpannya dalam lumbung. Menyiapkan pakan ternak, menjaga kesehatannya, juga menentukan waktu penyembelihan yang pas. Terakhir,  yang tak kalah penting, menentukan agenda pelaksanaan ritus agung kepada roh Lembah Owi ketika seorang berpulang, kemarau dan musim hujan hendak turun. Semua itu pun ditulis pada menhir yang sama, yang berdiri tegakkan di pusar permukiman Owi.

Seratus empat puluh lima tahun berlangsung, permukiman itu sering disebut serupa surga. Anak-anak ceria, tak ada satu pun kasus gizi busuk yang menimpa mereka. Ternak-ternak tambun. Hasil bumi tak pernah absen mengisi belasan lumbung. Para wanita menikmati hari-harinya dengan merawat isi rumah, juga berlatih seni meracik pelbagai bumbu yang memperkaya rasa dan aroma hidangan-hidangan terbaik yang siap disajikan kala makan malam. Sedangkan pria dewasa, selain beternak, bertani, dan berkebun, mereka juga gemar menunggangi kuda yang mereka piara, berburu, dan berkhayal—merangkai ulang bangunan-bangunan di Dowi agar tampak gahar. Beberapa yang lain menikmati hidupnya sebagai tabib, pemikir, penikmat catur, dan pemancing. Sedangkan Bawi, tak memiliki kesempatan di semua itu. Ia seorang penyambung lisan. Jika Tetua harus mengakui siapa tangan kananya di Dowi, maka jawaban itu pasti mengarah pada lelaki bernama Bawi.

Tetapi sepuluh tahun kemudian, tulang dan tubuh Tetua, berangsur-angsur kian keropos dan menyusut. Kulit tubuhnya berkisut-kisut. Kulit kepalanya tampak seperti bohlam yang dilapisi debu gurun.

Ia tak lagi punya kemampuan ‘tuk secara langsung membersamai orang-orang Dowi merawat Owi. Tak lagi kuasa mengawasi petani, pekebun, peternak, kepala pelaksana ritus, dan segala lainnya. Ia hanya bisa duduk tenang, di singgasana rumah adat yang khusus disediakan penduduk untuknya di masa renta itu. Dengan demikian, ia butuh seorang yang taat, perkasa, nan bijak ‘tuk senantiasa membawakan laporan dari luar rumah adat, semata-mata agar ia dapat memantau bagaimana Dowi berjalan hari demi hari dan memberikan sabda-sabda kecil kebaikan hidup Dowi.

Sabda kecil, menciptakan darma harian bagi penduduk Dowi. Memberikan mereka arahan berdasarkan tanda-tanda alam yang halus diberikan roh Lembah Owi, yang berhasil ditangkap dan dihayati Tetua dengan kelima indra dan hati yang ia miliki.

Sabda-sabda itu keluar, tak lain untuk memberi petunjuk sekaligus kewajiban sederhana yang musti dijalankan penduduk di tengah rasa kebimbangan bersama. Seperti misalnya, apakah apel harus dipanen lebih dahulu ketimbang pir, matoa, dan gandaria. Apakah pemerahan susu kuda musti diperbanyak melampaui pemerahan susu sapi, susu kambing, dan susu babi, dan masih banyak kebimbangan lagi.

Dalam beberapa waktu, rusaknya tubuh Tetua belum bisa membuatnya lumpuh total untuk tidak memberikan pengayoman pada desa yang ia cinta. Setidaknya belum. Sampai tiba masanya, tiga tahun lalu, hidupnya kian berkarat. Tabib memutuskan bahwa Tetua bahkan tak bisa lagi jika melangkah-langkah kecil mengelilingi ruang dalam rumah adat, atau bahkan hanya untuk duduk di singgasana dalam kurun beberapa waktu. Ia musti dibaringkan di pembaringan di bilik rumah adat.

Sudah tujuh matahari terbenam, ia berbaring, dan kondisinya kian menusuk. Penyakit tua itu mengharuskan Tetua untuk hibernasi seperti burung kayu, tidur setengah tahun. Bedanya, burung kayu hanya tidur pada musim bersuhu kecil. Sedangkan Tetua, setelah setengah tahun tidur, sebulan ia bangun, kemudian tidur lagi—setengah tahun lagi. Bagi Tabib, ini bukan penyakit tua yang wajar untuk seorang manusia tua. Kondisi tersebut membuat sebagian besar kerja penduduk Dowi hanya berjalan mengikuti pada darma umum, pranata mangsa yang telah rapi diukir di batu menhir. Tidak lagi mengikuti sabda-sabda kecil yang berlaku sementara waktu.

Mulanya, kerja penduduk Dowi tanpa Tetua tidak begitu menghadapi petaka. Barangkali tidak ada hasil yang teramat memuaskan seperti kala sabda-sabda kecil masih sering tercipta. Pranata mangsa, sudah lebih dari cukup mengatur kerja Kampung Dowi untuk dapat mengantarkan penduduknya merasakan keringat dan senyuman. Setidaknya itu bertahan sampai enam bulan tepat ketika Tetua kembali berhibernasi, semasa peralihan musim tiba.

***

Penduduk Dowi telah membersihkan aliran dan penampung air. Menyiapkan olahan pupuk kompos. Juga bersiap mengumpulkan benih-benih yang nanti akan disemai. Seharusnya, ini waktunya umur musim panas berakhir.

Hari berganti, seminggu, sebulan, dua bulan, tetapi tak kunjung juga mendung ada yang menggantung. Orang-orang berpikir, apakah Owi pun bisa demam. Mereka bersaksi, selama lebih dari seratus enam puluh enam tahun lebih beberapa bulan ini, tak pernah mereka temukan roda musim yang telat berputar.

Bawi hilang-kepalang. Masyarakat tak henti-henti bertanya apa yang musti mereka lakukan kala umur musim panas memanjang. Terus terang saja, ia tak bisa banyak menjawab, hanya satu jawaban yang ia punya, “Tetua kita masih tidur.”

Mendengar jawaban Bawi, penduduk sejenak iba. Mereka pun mengela napas panjang, mengelus dada, kemudian menengadakan tangan—mengucapkan harapan-harapan yang mereka percaya akan selalu ada.

Hingga pada satu ketika, penduduk sadar, lamban-lamban, sungai kehilangan hidupnya, menyisakan endapan lumpur dan bebatuan. Embung-embung yang mereka bangun, hanya tinggal menunggu waktu untuk punya nasib yang sama. Kebun, tani, gagal panen. Lumbung-lumbung kian melompong. Hewan ternak mengering laiknya busung lapar. Alang-alang merapuh. Angin panas turun. Riasan tanah menghilang, kulit bumi reta-retak.

Masuk bulan ketiga kekeringan, segala jenis penduduk menghadap Bawi. Perpanjangan musim yang masam seperti ini, membuatnya selalu mencoba untuk menyempatkan diri berdiri di beranda rumah adat demi melihat kodisi Dowi, seraya ia kenakan sepasang pakaian adat dengan pedang bersarung, juga mengikatkan destar.

***

Royi tak tahan lagi menanggung semua ini. Petani empat puluh tahun, berbadan tegap, sedikit kurus dan bermassa otot padat itu memutuskan untuk memberanikan diri mendatangi Bawi, menghadapnya di pelataran rumah adat. Ia berlari, tergopoh-gopoh, sembari membawa seikat padi muda yang terlebih dahulu menjadi jerami sebelum dituai. Ia berdiri, dan menunjukkan tanaman mati itu kepada Bawi. “Tuan, padi gogo tak lagi bisa diandalkan. Izinkan kami menggantinya dengan sorgum. Biji pengganti itu tidak akan cepat haus seperti padi.”

Bawi menatapnya dalam, “Tuan Royi, Tetua sedang tidur. Maka izinkan saya sampaikan kembali kepada Anda tentang sepatah sabda agung Tetua kala ia mendirikan kampung yang kita tinggali ini, ‘Getih Dowi Ana ing Tatanan Owi’.” Suasana hening sejenak. “Tuan tahu, sorgum tidak pernah ada di daftar tumbuhan dalam darma Owi,” lanjut Bawi.

Royi mengepalkan tangan. “Kalau begitu, izinkan kami menyemai jewawut. Kami para petani akan mencari benihnya di lereng gunung, memetiknya, lalu mengangkutnya ke dataran Dowi. Kemudian bersama-sama dengan rajin kita semai benih-benih itu di terasering kami. Oh Tuan, kampung ini tak boleh kelaparan.”

“Tuan, jewawut tak pernah ada dalam darma Owi. Hanya padi. Hanya padi.”

“Tuan, anak saya butuh makan.”

Bawi diam. Senyap. 

Tak lama, terdengar bunyi larian. Tiga orang mendekat dari kejauhan. Seorang di antaranya melantang, “Royi …! Cepatlah kembali ke rumahmu. Istrimu menunggu.”

“Hanya istriku?”

“Ya, istrimu.”

“Bagaimana dengan anakku?”

“Sepertinya, anakmu tak lagi bisa menunggu.”

Royi kembali mengepalkan tangan. Lekas ia bertolak menjemput panggilan itu.

Bergantilah sosok yang menghadap Bawi. Ketiga orang tersebut: pekebun, perencana kampung, dan kepala pelaksana ritus menghadap Penyambung Lisan Tetua yang dinilai taat—secara tak langsung, ia dipandang sebagai wakil Dewa.

Sambil sedikit terengah-engah, Undung, pekebun tambun, mengajukan hajat kepada Bawi, “Tuan …, pohon apel, pir, matoa, dan gandaria sudah capek bikin buah. Kita ganti aja tiga macam buah itu sama sawo dan jambu mete. Sawo dan jambu mete juga sama sedap kok. Semua juga pasti doyan.”

Bawi sedikit menghela napas. Ia tak segera menjawab ajuan Undung. Wakil Dewa itu kemudian lanjut bertanya kepada Balung dan Kelung, perencana kampung dan kepala pelaksana ritus masyarakat Dowi, “Apa yang ingin kalian ajukan?”

Balung, pemuda yang kerap dipercaya Tetua untuk merencanakan tata kampung langsung membuka daluang gulung yang ia bawa, lembaran itu berisi peta Kampung Dowi tampak dari atas. “Lihat, di beberapa titik dataran Dowi, ada permukaan tanah yang cekung, kita bisa memanfaatkannya saat ini, menggali sumur yang dalam untuk mengganti air yang semakin jarang! Sumur yang kurang lebih seperti di halaman belakang rumah adat—mungkin lebih dalam.”

Sepintas Bawi melirik daluang itu. Tapi tak lama ia menggeser pandangan, menatap Kelung, “Bagaimana dengan Anda?”

“A …, anu.” Kelung sedikit gemetar, kepala pelaksana ritus itu memilin-milin pakaian dengan jemarinya, “Wahai ya … yang mulia Tuan Bawi, tidakkah engkau melihat kita semua kesusahan. Alangkah durhakanya, jika kita tak melaksanakan ritus dan pengorbanan pada roh Lembah Owi. Jika Tuan Bawi berkenan, hamba akan cepat kumpulkan warga untuk menyiapkan sesembahan dan meletakkannya di menhir. Kemudian kita akan berdoa bersama. Lalu rezeki akan datang sentosa.”

Bawi kembali tegap. Melipatkan tangan ke belakang.

“Tuan Undung dan Tuan Balung, kalian tentu tahu, Tetua sedang tidur. Maka izinkan saya sampaikan kembali, sepatah sabda agung Tetua kala ia mendirikan kampung yang kita kenal ini sebagai pengingat. ‘Getih Dowi, ana ing tatanan Owi’. Para Tuan tahu, jambu mete, sawo, dan sumur tak pernah ada dalam darma Owi.”

Alis Balung menyatu nan berkerut tajam, rahangnya menegang, mengeras, “Memang tak ada, tapi bagaimana dengan sabda-sabda kecil yang seringkali tiba-tiba ada. Sabda-sabda kecil tak pernah ada di darma Owi yang diukir dalam menhir!” Undung menyimak Balung dengan lesu dan pandangan penuh harap.

“Tuan Balung, memang engkau benar. Tapi sekarang tidak ada sabda-sabda kecil.”

“Kalaupun Tetua melihat ini semua, sudah jauh-jauh hari dia pasti menitah sabda-sabda kecil!” Balung membalas.

“Barangkali benar. Juga barangkali tak selalu demikian. Kita tak pernah tahu. Sekarang, Tetua sedang tidur, mari bersama kita tunggu ia bangun.”

“Mengapa tak kita bangunkan saja ia sekarang!” Sahut Balung.

Sorot mata Bawi menyipit. “Tuan, tabib berkata Tetua harus tidur panjang. Agar ia tetap hidup. Agar ia tetap ada untuk Dowi. Apa Tuan ingin Tetua mati?”

Balung menajamkan pandangan, “Aku tak ingin kita semua mati. Aku yakin, Tetua tak akan senang melihat kita semua mati.”

Bawi diam sejenak. Menundukkan kepala. “Kau bukan Tetua, Balung. Kau tak memiliki sabda. Ini hanya musibah. Kita musti tabah.”

Kelung menyahut, “Wa … wahai Tuan, selain tabah, bukankah kita musti melayangkan doa. Mari kita sama-sama berkurban, sebelum ternak-ternak kita mati dan jadi bangkai. Para peternak juga pasti merelakan. Kita gunakan saja hewan-hewan itu untuk sesembahan kepada roh Lembah Owi.”

Bawi melipat tangan ke depan, “Benar Tuan Kelung, kita musti tabah dan berdoa, lakukan itu dalam hati masing-masing. Tak perlu pembacaan doa dan ritus akbar. Tak perlu ada kurban. Dalam darma Owi, pengurbanan dan ritus akbar hanya diizinkan dalam dua kejadian. Pertama, masa peralihan musim, itu terjadi tiga bulan yang lalu dan akan terjadi lagi tiga bulan mendatang. Kedua, jika ada anggota kita yang dahulu telah berpindah alam.”  

“Ta …, tapi yang mulia. Hasil bumi kita telah banyak yang mati. Dengan kurban, setidaknya kita bisa menyusun harapan. Kalau ternak-ternak juga mati percuma, kita tak akan bisa makan, kita tak punya harapan.”

“Makan saja bangkainya, dengan begitu kita punya harapan hidup lebih panjang.”

“Kau sakit, Bawi,” sahut Balung. “Jangan pikirkan nasib nyamanmu sendiri yang tiap hari hidup di rumah adat. Hunian yang besar, lumbung pangan yang besar, sumur privat yang dalam, namun hanya berisi tiga orang. Itu pun Tetua hanya tidur, anggaplah rumah besar ini berisikan dua orang, kau dan tabib itu. Sepanjang waktu hidupmu hanya berdiri di beranda dan memerintah orang-orang. Tabib pun, jelas ia tak banyak kerja. Sebab Tetua musti tidur, lama, sangat lama.”  

Bawi diam.

“Maafkan aku Tuan. Aku berdiri dan tinggal di sini tak lebih dari menjalankan tugas. Begitupula Tabib, kewajibannya adalah berjaga di rumah adat, tidak ada yang tahu perkembangan kondisi Tetua. Semoga kita semua tetap tabah.” Undung, Balung, dan Kelung mecoba mencerna kalimat Bawi hangat-hangat.

 Tapi tak lama, terdengar lengkingan keras dari kejauhan. Derap langkah cepat terdengar mendekat “Bawiii …!”. Seorang lelaki datang membopong bayi, Royi datang dengan buah hatinya. Ia berhenti, kembali menghadap wakil Dewa yang pagi tadi ia temui. “Lihat ini, Bawi! Lihat ini!” Royi menunjukkan bayi yang terbungkus selendang coklat muda yang ia gendong, bayi yang kering, perut menggelembung, tak ada hawa hangat kehidupan yang terpancar darinya: bayi itu mengeras, kaku, dingin.

“Ia tak bisa melihat dunia lagi, Bawi. Lihat anakku …, lihat nasib anakku yang tak engkau acuhkan beberapa saat lalu.”

Bawi membeku. Pori-pori tubuhnya mengembun, bulir-bulir keringat dingin mengaliri kulitnya. “Aku mengacuhkannya, Tuan Royi! Aku sangat ingin menolongnya. Menolong kalian semua, melalui darma yang ada, melalui kearifan budaya kita.” Badan Bawi sedikit keder. “Mungkin roh lembah ini berkehendak lain. Semoga anak Anda berada di alam terbaik.”

Bawi mengalihkan pandangannya kepada Kelung. “Tuan Kelung, seperti yang termaktub dalam darma yang kita punya, sekaligus bertepatan dengan permintaan Anda, segera beritahu warga, siapkan sesembahan dan segala persiapan ritus akbar. Kita kehilangan salah satu dari anak kita semua. Kalian semua, para Tuan, cepat bantu Kelung. Aku pun akan bersiap diri. Kemudian menyusul.”

“Ba … baik yang mulia,” jawab Kelung dengan membungkukkan badan.

Bawi membalikkan badan. Melangkahkan kaki, lalu masuk kembali ke dalam rumah adat. Pintu ditutup.

***

            Pagi masihlah terik. Tak terasa tiga bulan sudah berguling. Tabib yang menunggu disamping pembaringannya tersentak, beberapa jemari Tetua nampak sedikit melihatkan pergerakan kecil. Bibirnya perlahan mulai komat-kamit, merekah-mengatup-merekah-mengatup. Tabib segera melangkah cepat ke beranda. Menemui Bawi yang sedang berdiri.

“Tuan Bawi,” panggil Tabib pelan.

“Ada apa Siwi?”

“Marilah masuk ke bilik kehormatan. Dewa sudah hidup kembali.”

Pupil Bawi seketika membesar. Lalu ayal menyusut kembali. “Oh, begitu ya.”

Kedua penjaga rumah adat tersebut menuju ke bilik peristirahatan Tetua.

Ketika mereka memasuki bilik, Tetua telah membuka mata. Mulai menggerak-gerakkan tangannya. “Ah, kalian. Terima kasih sudah menjaga.”

Bawi dan Siwi menundukkan kepala, sedikit membungkukkan badan. “Sebuah kehormatan bagi kami.”

“Kalian memang setia. Aku bangga. Sekarang tolong aku untuk menggerakkan tubuh ini. Aku ingin sedikit melihat keluar. Dowi, pasti indah. Kampung itu sejak dulu memang seperti mutiara.”

Bawi dan Siwi pun membantu Tetua menggerakkan tubuhnya. Menuruni kasur. Kemudian menuntunnya selangkah demi selangkah. Keluar bilik. Keluar rumah dan melihat Dowi dari beranda. 

Ketika mereka sampai beranda, seketika Bawi berceletuk, “Maaf Tetua, hamba sudah berusaha.”

Tetua mematung. Pandangannya kosong. Di depan beranda, hanya ada serakan tengkorak dan rangka-rangka belulang. Bangunan-bangunan kampung terbengkalai, rengat-rengat. Lahan tani dan kebun hanya menyisakan lumpur kering, dahan, ranting, yang diselimuti sekumpulan debu-debu. Di mata Tetua, mutiara telah terbakar. “Ada apa dengan ini?”

“Kampung Dowi kerasukan matahari, Tetua. Dan atas kesetiaan kami, tak ada seorang pun di sini yang hidup di luar darma dari sabda agungmu. Kami tabah. Kami berdoa. Kami menunggu kesembuhanmu, menunggu sabda kecilmu. Semua menunggu, sampai tersisa Hamba dan tabib Tetua.”

Siwi menyambung, “Hari ini sudah saatnya. Kami, dan mereka semua yang mati akan merasa begitu terhormat untuk kembali mendengar dan menjalankan sabda Anda.”

Tetua menghembuskan napas panjang. Matanya menyayu. Ia kembali membalikkan badan, menuju ke dalam perut rumah adat. Sambil hendak melangkah, ia menyabda, “Getih Dowi ana ing ati lan naluri. Kasalamatan ana ing jejege sirah swiji-wiji.

Bawi pun menghunus pedang kehormatanya. Mengibaskannya. Sekejap mata, kepala Dewa jatuh ke lantai dengan senyuman.

Siwi gemetar. “Apa yang kau pikirkan!”

Bawi menyarungkan kembali pedang bergetah darah itu. “Seperti biasa, aku mematuhi sabdanya. Dia ingin kita merdeka.”

Malang, 19 Mei 2025.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top