Sampel Puisi 2

Bukankah kalian telah saksikan,

langit malam kami telah jadi

api yang berjatuhan.

Gedung-gedung berguguran

menjadi makam.

Nyanyi-nyanyian burung,

tawa dan tangis anak kecil

sudah luruh jadi puing batu

dan himpun kerikil.

Tanah kami bukan lagi tanah

yang dibangun dari

taman, bunga, dan kupu-kupu.

Tanah kami, hanya menyisakan

sesak tenda dan busuk mayat

yang digotong

dari tandu ke tandu.

Kaki kami remuk,

kepala anak-anak kami

meledak dan hilang jadi abu.

Maafkan kami, saudaraku,

kilau dinding Aqsha telah jatuh

dan Yerussalem pun luluh, runtuh,

dikangkangi segerombolan binatang

berkepala bintang itu.

Maafkan kami,

dan di atas tanah kelabu

yang bermandikan peluru;

kami menunggu.

Kami menunggu.

… bukankah kalian telah saksikan,

langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top