Bukankah kalian telah saksikan,
langit malam kami telah jadi
api yang berjatuhan.
Gedung-gedung berguguran
menjadi makam.
Nyanyi-nyanyian burung,
tawa dan tangis anak kecil
sudah luruh jadi puing batu
dan himpun kerikil.
Tanah kami bukan lagi tanah
yang dibangun dari
taman, bunga, dan kupu-kupu.
Tanah kami, hanya menyisakan
sesak tenda dan busuk mayat
yang digotong
dari tandu ke tandu.
Kaki kami remuk,
kepala anak-anak kami
meledak dan hilang jadi abu.
Maafkan kami, saudaraku,
kilau dinding Aqsha telah jatuh
dan Yerussalem pun luluh, runtuh,
dikangkangi segerombolan binatang
berkepala bintang itu.
Maafkan kami,
dan di atas tanah kelabu
yang bermandikan peluru;
kami menunggu.
Kami menunggu.
… bukankah kalian telah saksikan,
langit malam kami telah jadi api yang berjatuhan