Tentang Malang Gandeng Gramedia Kayutangan dan Saling Tulis, Kupas Jejak Sastra dari Chairil Anwar hingga Bahasa Walikan

WhatsApp Image 2026 05 31 At 20.10.32 1 1024x575
Dari kiri, (1) M. Arif Rahman Hakim, (2) Fadhil Reiza, (3) Ahmad Rofi Uddin. Jumat (3/10/25) (Dokumentasi Redaktur)

Komunitas Tentang Malang menginisiasi talksow bertajuk Perayaan Bulan Bahasa Bersama Semesta Buku Malang yang digelar pada Jumat, 3 Oktober 2025, di Malang Creative Center, Jalan Ahmad Yani Nomor 53, Blimbing, Kota Malang. Acara yang berlangsung mulai pukul 15.00 hingga 21.00 WIB itu, digagas dalam rangkaian bazar Semesta Buku yang diselenggarakan Gramedia Kayutangan Malang, sekaligus menjadi bagian dari peringatan bulan bahasa nasional.

Tentang Malang menggandeng Komunitas Saling Tulis untuk mengisi materi talkshow. Kolaborasi ini melibatkan sejumlah lini penerbitan Kompas Gramedia Group, di antaranya Gramedia, Gramedia Pustaka Utama, Elex Media Komputindo, Grasindo, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Bentang Pustaka (BIP), dan M&C!.

“Terima kasih sebesar-besarnya kepada Semesta Buku dan Gramedia Kayutangan Malang sudah memberikan kesempatan dan wadah untuk merealisasikan kegiatan ini,” demikian pernyataan Ahmad Rofi Uddin, founder Tentang Malang.

Sesi utama acara ini adalah talkshow bertajuk Malang dalam Berbahasa dan Bersastra. Menghadirkan dua pemateri, yakni M. Arif Rahman Hakim dari Komunitas Saling Tulis dan Fadhil Reiza dari Tentang Malang, dengan Ahmad Rofi Uddin sebagai moderator. Materi yang dibawakan dalam talkshow tersebut mengangkat tema Jejak Bahasa dan Sastra di Kota Malang: Rekap Kecil dari Chairil Anwar sampai Semesta Buku Malang. Dalam paparannya, Arif menyoroti keterkaitan sejarah antara penyair legendaris Chairil Anwar dan Kota Malang.

“Dua sajak Chairil Anwar, Sorga dan Doea Sajak Boeat Barsuki Resobowo yang bertitimangsa di Malang menjadi tanda kuat bahwa si Binatang Jalang itu pernah menginjakkan kakinya di kota ini,” ujar Arif. Berkemungkinan besar, kedatangan Chairil bertepatan pada  sidang kelima Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) pada 1947 di Societeit Concordia yang kini jadi gedung Sarinah.

 Ia menambahkan, bahwa Patung Torso Chairil Anwar yang berdiri di kawasan Kayutangan sejak 1955 kini telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya oleh Pemerintah Kota Malang pada 2022 sekaligus simbol episentrum seni serta sastra, khususnya puisi, di kota ini.

Lepas membahas kaitan Chairil dan Malang, arah pembicaraan juga mengulas  asal-usul bahasa walikan atau bahasa terbalik, ciri khas slang arek Ngalam. Arif menjelaskan bahwa bahasa ini diduga mulai digunakan oleh kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK) pimpinan Mayor Hamid Rusdi sebagai siasat mengelabui mata-mata Belanda pada masa Agresi Militer Belanda II.

“Awalnya ini strategi perjuangan, alat komunikasi rahasia para gerilyawan. Jadi ketika anak Malang sekarang bicara osob kiwalan, sebenarnya mereka mewarisi jejak perlawanan yang sudah berumur puluhan tahun,” kata Arif.

Merujuk pada Sastra Indonesia di Malang Tahun 2000-2025, perjalanan sastra Kota Malang dapat dipetakan dalam empat periode. Periode 2000-2005 ditandai dengan kebangkitan komunitas sastra lokal. Mewadahi masyarakat dalam berkarya. Didominasi puisi dan cerpen bertema kritik sosial, identitas, dan spiritualitas, dengan aktor seperti Komunitas Kalimetro, Teater Lingkar, dan penerbit Dioma Press.

Periode berikutnya, 2006-2010, karya-karya penulis Malang mulai berani mengangkat tema rural dan mitos dengan gaya eksperimental. Memasuki 2011-2020, sastra Malang memasuki era digitalisasi dan sastra urban, ditandai maraknya penerbit lokal serta distribusi karya lewat media digital. Adapun periode 2021-2025 disebut era sastra pascapandemi dan ekologis, banyak karya yang bersifat reflektif, dokumentatif, dan kolaboratif, mengangkat tema kota, keluarga, hingga cerita rakyat. Salah satu karya yang disebut dalam periode ini adalah Anjing-Anjing Lepas Amarah karya Yohan Fikri yang terbit pada 2025 lewat Edisimori.

Materi talkshow juga memetakan ekosistem literasi Kota Malang yang dinilai beragam, mulai dari lapak baca di taman hingga penerbitan komunitas. Sejumlah komunitas literasi yang disebut aktif di Malang antara lain Pelangi Sastra Malang, Gubuk Tulis, Laskar Pujangga, Sabtu Membaca, Duduk Baca, Malang Women Writers Society, hingga Kalimetro.

Di sisi penerbitan, kota ini juga tercatat memiliki sejumlah penerbit lokal, seperti Dioma Press, UB Press, Soka Media, Intrans Publishing, Pelangi Sastra, Edisimori, dan banyak lagi. Beberapa festival literasi turut disebut sebagai bagian dari penguatan ekosistem tersebut, termasuk Pekan Sastra Kota Malang, Festival Sastra Kota Malang (FSKM) 2023 dan 2024, Bulan Bahasa dan Sastra Writers Festival (BWCF) 2023, serta peringatan Seratus Tahun Pramoedya pada 2025.

Selain talkshow, panitia juga menyiapkan workshop menulis aksara Kawi dan belajar bahasa Jawa Kuno—yang dipandu Ageng Gumelar Wicaksono, pegiat aksara dan bahasa kuno—bagi peserta yang ingin mendalami literasi aksara nusantara secara praktik. Rangkaian acara ditutup dengan sesi live music dan musikalisasi puisi yang dibawakan oleh Renjanaa Music, yang menurut panitia berhasil menyita perhatian pengunjung Semesta Buku hingga penghujung acara.

“Kami berharap, dengan ini, banyak dari teman-teman lebih sadar bahwa Malang adalah kota yang kaya akan perkambangan sosial-budaya dan iklim literasi yang mengikutinya,” tutup Rofi.

Ariv R. Hakim

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top